Tercekik Tawa Palsu

Aku tersenyum, menangis, meringis, dan tersendat.

Mereka lihat senyumku, tapi malah membunuhku.

Mereka meraba tawaku, dan menimbunnya,
sampai aku kosong kehilangan hasrat.

Berapa kali keluhanku kau kunyah mentah-mentah?
Berapa kali dalam hidupmu kau meracuni hati kecilku??
Sejauh mana kau bisa mendoktrinku untuk berenang dalam fatamorgana duniamu???

Kau hanya diam tutup mulut dan pendam rasa, saat aku kesakitan tercekik tawa palsu.

Merekapun berbalas:
Maka jadilah batu, sahabatku
Tapi jangan semati mati tugu

Sebab karang di lautan
Lebih teruji menghadang gelombang

Masing-masing kita telah menjatuhkan pilihan
Untuk hidup dan menghidupi

Dari sisa petualangan
Seperti catatan harian ibu

Yang tak menyisakan ruang
Sekadar menuliskan penyesalan

Published by dydy

a student at High School of Islamic Philosophy - SADRA a member of SPS, a pres institute a member of LAFAS, a research institute of Philosophy and Mysticism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: