Aku Berada di Ujung Tanduk

Aku terakhir kali ingat, tersandung sebuah batu di tanah tak berpenghuni.
Di hari lainnya aku ingat lagi, pernah menenggelamkan diri ke danau karena merasa kehausan.
Di hari yang lainnya lagi, aku ingat bahwa aku tidak ingat apa-apa.
Jangan-jangan aku ini memang tidak ada, aku ini hanya sesuatu yang musnah dan tidak bisa kembali di ciptakan.
Atau aku ini adalah cinta semu yang terbuang karena kepergian seluruh sari patinya.
Aku tidak akan meminta pertolongan siapapun, aku tidak akan memungut empati dan simpati dari siapapun.
Aku tidak akan sekali-sekali menengok kebelakang, menerawang kedepan atau menengadah keatas.
Karena aku berada di ujung tanduk,
dan aku hanya diam dalam keterpakuan yang dalam.

Merekapun berbalas
“Api kan selalu membakar, air kan selalu membasahi, angin tak bosan berhembus, dan tanah tak merasa rugi dihuni.”

Published by dydy

a student at High School of Islamic Philosophy - SADRA a member of SPS, a pres institute a member of LAFAS, a research institute of Philosophy and Mysticism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: